Selamat Datang di Blog Bimbingan Konseling Islam ((Semoga Anda Terinspirasi))

Selasa, 11 Januari 2011

Teori-Teori Konseling

TEORI-TEORI KONSELING


DISUSUN OLEH
Riyan Hidayat : 09.11.08.0050
Jurusan : Bimbingan Konseling Islam
(BKI)







Fakultas tarbiyah
Institut agama islam negeri ( iain )
Raden intan lampung
2010












DAFTAR ISI
Cover Halaman
Teori-Teori Konseling 2
1. Teori konseling “trait & factor” 6
2. Konseling “rational emotive” 9
3. Teori Behavioral 11
4. Teori Gestalt 12
5. Teori Humanistik 13
6. teori konseling “client-centered”(berpusat pada klien) 15
7. Konseling Psikologi Individual 16
8. Konseling Analisis Transaksional 17
Daftar Pustaka



TEORI-TEORI KONSELING

TEORI KONSELING
Perkembangan teori konseling saat ini mengalami kemajuan yang sangat pesat. Hal ini tampak pada hasil-hasil penelitian yang dipublikasikan pada jurnal-jurnal penelitian baik skala nasional maupun internasional. Penelitian yang dipublikasikan di jurnal-jurnal ilmiah pada dasarnya merupakan usaha menjawab permasalahan-permasalahan yang terjadi pada dunia bimbingan dan konseling. Fenomena yang terjadi di sekolah sebagai wahana pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling menjadi lahan yang baik bagi perkembangan teori konseling.
Saat ini, di era globalisasi, permasalahan yang muncul di sekolah juga menjadi semakin kompleks. Permasalahan tidak saja berkutat kepada kesulitan balajar, tetapi juga masalah-masalah lain seperti narkoba, penyimpangan seksual dan masih banyak lagi.
Permasalahan ini secara langsung akan berdampak kepada konselor sebagai ujung tombak pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling. Keadaan seperti ini pada dasarnya menuntut konselor untuk secara simultan mengembangkan kemampuan konselingnya dengan didasarkan pada teori-teori konseling yang up to date.

1. TEORI KONSELING “TRAIT & FACTOR”
Beberapa tokoh utama teori sifat dan faktor adalah Walter Bingham,John Darley,Donald G.Paterson, dan E.G. Williamson, tetapi tokoh yang paling menonjol dan terkenal ialah Williamson karena pandangan dan konsepnya telah banyak dipublikasikan dalam berbagai artikel,jurnal dan buku-buku. Teori sifat dan faktor ini sering pula di sebut sebagai konseling direktif atau konseling yang berpusat pada konselor.


A. Konsep Utama
Menurut teori ini,kepribadian merupakan suatu sistem sifat atau faktor yang saling berkaitan satu dengan lainnya seperti kecakapan,minat,sikap dan tempramen.Studi ilmiah yang telah dilakukan adalah (1) mengukur dan menilai ciriciri seseorang dengan tes psikologis, (2) mendefinisikan atau menggambarkan diri seseorang,(3) membantu orang untuk memahami diri dan lingkungannya, dan (4) memprediksikan keberhasilan yang mungkin di capai di masa mendatang.
Hal mendasar bagi konseling sifat dan faktor adalah asumsi bahwa individu berusaha untuk menggunakan pemahaman diri dan pengetahuan kecakapan dirinya sebagai dasar bagi pengembangan potensinya.
Maksud konseling menurut Williamson adalah untuk membantu perkembangan kesempurnaan berbagai aspek kehidupan manusia. Dikatakan bahwa selanjutnya tugas konseling sifat dan faktor adalah membantu individu dalam memperoleh kemajuan memahami dan mengelola diri secara membantunya menilai kekuatan dan kelemahan diri dalam kegiatan dengan perubahan kemajuan tujuan-tujuan hidup dan karir (Shertzer & Stone,1980,171)
Asumsi pokokyang mendasari teori konseling sifat dan faktor adalah:
a. Karena setiap individu sebagai suatu pola kecakapan dan kemampuan yang terorganisasikan secara unk,dan karena kemampuan kualitas relatif stabil remaja,maka tes objektif dapat di gunakan untuk mengidentifikasikan karakteristik-karakteristik.
b. Pola-pola kepribadian dan minat berkorelasi dengan oerilaku kerja tertentu.Oleh karena itu, maka identifkasi karakteristik para pekerja yang berhasil merupakan suatu informasi yang berguna dalam membantu individu memilih karir.
c. Kurikulum yang berbeda akan berbeda menuntut kapasitas dan minat yang berbeda dan hal ini dapat di tentukan.Individu akan belajar dengan lebih mudah dan efektif apabila potensi dan bakatnya sesuai dengan tuntunan kurikulum.
d. Baik siswa maupun konselor hendaknya mendiagnosa potensi siswa untuk mengawali penempatan dalam kurikulum atau pekerjaan.Hasil di agnosa juga dapat di jadikan dasar memprogram kehidupan rumaah tangga.
e. Setiap orang menyukai kecakapan dan keingingan untuk mengidentifikasikan secara kognitif kemampuannya sendiri.Individu berusaha untuk medapatkan dan memelihara kehidupannya dan memanfaatkan kecakapan dalam mencapai kepuasan kerja dengan kehidupan rumah tangga.

B. Proses Konseling
Peranan konselor menurut teori sifat dan faktor adalah memberitahukan konseli tentang berbagai kemampuannya yang diperoleh konselor melalui testing.Berdasarkan hasil testing pula ia mengetahui kelemahan dan kekuatan kepribadian konseli.
Menurut teori proses konseling di bagi menjadi lima tahap atau langkah utama yaitu : (a) Analisis, (b) Sintesis, (c) Diagnosis, (d) Konseling dan (e) Tindak lanjut.
a. Analisis merupakan tahapan kegiatan yang terdiri daripengumpulan informasi dan data mengenai konseli.Sebeum konseling dilaksanakan, baik klien maupun konselor harus mempunyai informasi yag dapat di percaya,tepaat relevan.Analisis dapat dilakukan dengan menggunakan alat-alat seperti :catatan komulatif,wawancara,format distribusi waktu,otobiografi,catatn anekdot,tes psikologis,dan sebagainya.
b. Sintesis merupakan langkah untuk merangkum dan mengatur data hasil analisis yang sedemikian rupa sehingga menunjukkan bakat klien,kelemahan serta,kekuatanya, dan kemampuan penyesuaian diri.
c. Diagnosis sebernarnya merupakan langkah pertama dalam bimbingan hendaknya dapat menemukan ketetapan dan pola yang dapat mengarah kepermasalahan,sebab-sebabnya serta sifat-sifat klien.
d. Konseling merpakan hubungan memabntu konseli untuk menemukan sumber diri sendiri maupun sumber di luar dirinya,baik di lembaga atau di sekolah dan masyarakat dalam upaya mencapai perkemangan dan penyesuaian optimal,sesuai dengan kemampuannya.
e. Tindak lanjut, mencakup bantuan kepada klien dalam menghadapi masalh baru dengan mengingatkannya kepada masalah sumbernya sehinggaa menjamin keberhasilan konseling.



C. Tehnik Konseling
Tehnik konseling sifatnya khusus bagi setiap individu dan masalahnya.Setiap teknik hanya dapat dipergunakan bagi masalah dan klien secara khusus.Teknik-teknik yang digunakan dalam konseling ialah:
a. Penggunaan hubungan intim (rapport). Konselor harus menerima konseli dalam hubungan yang hangat,intim,bersifat pribadi,penuh pemahaman dan terhindar dari hal-hal yang mengancam konseli.
b. Memperbaiki nasihat dan perencanaan program kegiatan. Konseli harus memahami kekuatan dan kelemahan dirinya,dan dibantu untuk mengggunakan kekuatannya dalam upaya mengatasi kelemahannya.
c. Pemberian nasihat dan perencanaan program kegiatan. Konselor mulai bertlak dari pilihan,tujuan,pandangan atau sikap konselor dan kemudian menunjukkan data mendukung atau tidak mendukung dari hasil diagnosis.

2. KONSELING “RATIONAL EMOTIVE”
Tokoh teori ini adalah Albert Ellis.Para ahli psikologis klinis sering mengkhususkan diri dalam bidang konseling perkawinan dan keluarga.

A. Konsep Utama
Ellis memandang bahwa manusia itu bersifat rasional dan juga irasional.Orang berprilaku dalam cara-cara tertentu karena ia percaya bahwa ia harus bertindak dalam cara itu.Orang mempunyai derajat tinggi dalam sugestibilitas dan emosionalitas yang negatif (kecemasan,rasa berdosa, permusuhan dan sebagainya).
Unsur pokok terapi rasional-emotif adalah asumsi bahwa berpikir dan emosi bukan dua proses yang terpisah. Menurut Ellis pikiran dan emosi dua hal yang saling bertumpang tindih,dan dalam prakteknya kedua hal itu saling terkait. Emosi di sebabkan dan di kendalikan oleh pikiran. Padangan yang penting dalam teori ini adalah konsep bahwa banyak perilaku emosional individu yang berpangkal pada “selftalk” atau “omong diri” atau internalisasi kalimat-kalimat yaitu orang yang menyatakan kepada dirinya sendiri tentang pkiran dan emosi yang bersifat negatif.

B. Proses Konseling
Tugas konselor menurut ellis ialah membantu individu yang tidak bahagia dan menghadapi hambatan,untuk menunjukan bahwa: (a) kesulitannya disebabkan oleh persepsi yang terganggu dan pikiran-pikiran yang tidak logis, dan (b) usaha memperbaikinya adalah harus kembali kepada sebab-sebab permulaan.Konselor yang efektif akan membantu klien untuk menguba pikiran,persaan dan perilaku yang tidak logis.
C. Tujuan Konseling Rasional-Emotif
Berdasarakan pandangan dan asumsi tentang hakekat manusia dan kepribadiannya serta konsep-konsep teoritik dan RET,tujuan konseling rasional-emotif adala sebagai berikut:
a) Memperbiki dan merubah sikap,persepsi cara berfikir,keyakinan serta pandangan-pandangan klien yang irasional dan logis menjadi rasional dan logis agar klien dapat mengembangkan dirimeningkatkan self actualizationya seoptimal mungkin melalui prilaku kognitif dan afektif yang postif.
b) Menghilangkan gangguan-gangguan emosional yang merusak diri sendiri seperti :rasa takut,rasa bersalah,rasa berdosa,rasa cemas,merasa was-was,rsa marah, sebagai konseling dari cara berfikir.
Secara lebih khusus Ellis menyebutkan bahwa dengan terapi rasional-emotif akan tercapai pribadi yang tertadai dengan:

a) Minat kepada diri sendiri.
b) Minat sosial.
c) Pengarahan diri.
d) Toleransi terhadap orang lain.
e) Fleksibilitas.
f) Menerima ketidakpastian.
g) Berfikir ilmiah.
h) Penerimaan diri.
i) Berani mengambil resiko.
Sebagai suatu bentuk hubungan yang bersifat membantu terapi rasional-emotif mempunyai karakteristi:
a. Aktif-direktif
b. Kognitif-eksperensial.
c. Emotif-eksperensial.
d. Emotif-eksperensial.
e. Behavioristik.
f. Kondisional.

D. Tehnik-tehnik terapi
Terapi rasional-emotif menggunkan berbagai teknik-teknik yang bersifat kognitif,afektif dan behavioral yang disesuaikan dengan kondisi klien.Berikut ini akan dikemukakan beberapa macam tehnik.
Teknik-teknik emotif (afektif)
a. Teknik Assertive Training, yaitu teknik yang digunakan untuk melatih da mendorong membiasakan klien untuk secara terus menerus menyesuaikan dirinya dengan perilaku tertentu yang di inginkan.
b. Teknik sosiodarma, yang digunakan untuk mengekspresikan berbagai jenis persaan menekan melalui suatu suasanan yang di dramatisasi sedemikian rupa sehingga klien dapat secara bebas mengungkapkan dirinya sendiri.
c. Tehnik ‘self modeling’ atau ‘diri sebagai model’ yakni teknik yang digunakan untuk meminta klien atau mengadakan “komitmen” dengan
konselor untuk menghilangkan perasaan atau perilaku tertentu.


Tehnik-tehnik Behavioristik
a. Teknik Reinforcement (penguatan), yakni tehnik yang digunakan untuk mendorong klien kearah perilaku yang lebih rasional dan logis dengan jalan memberikan pujian verbal (reward) atau pun punisment (hukuman).Bila perilaku klien mengalami kemajuan dalam arti positif,makaia di puji “baik” bila mundur dalam arti masih negatif,maka dikatakan “tidak baik”.
b. Teknik social modeling (pemodelan social),yakni teknik yang digunakan untuk memberikan perilaku-perilaku baru pada klien.Tehnik ini dilakukan agar klien dapat hidup dalam suatu model sosial yang diharapkan dengan cara imitasi (peniruan),mengobservasi,dan menyesuaikan dirisendiri dengan model sosial yang di buat itu.
c. Teknik Live models (model dari kehidupan nyata), yang digunakan menggambarkan perilaku-perilaku tertentu,Khususnya situasi-situasi interpersonal yang kompleks dalam bentuk percakapan sosial,interaksi dengaan memecahkan masalah-masalah.

3. TEORI BEHAVIORAL
Pendekatan behavioral merupakan sebuah pendekatan dalam konseling yang secara umum masih dipergunakan oleh para konselor. Tokoh pendekatan ini antara lain adalah Bandura, Pavlov, Skinner dan masih banyak yang lainnya. Pendekatan ini berasumsi bahwa perilaku manusia merupakan serangkaian hasil belajar. Apa dilakukan oleh seseorang merupakan hasil produksi dari lingkungan yang dominan seperti orang tua, sekolah, masyarakat atau orang lain yang berpengaruh (significant other). Manusia dianggap sebagai mahkluk yang tidak mempunyai daya apa-apa (determinitif). Manusia identik dengan robot, yang tidak memiliki inisiatif dan hanya bisa melakukan sesuatu karena merespon sebuah perintah.
Walaupun teori ini (yang klasik) sudah banyak ditentang oleh aliran-aliran baru dalam konseling, tetapi teori ini tetap saja eksis dengan melakukan beberapa modifikasi. Skinner (dalam Soedarmadji dan Sutujono, 2005) menyatakan bahwa pandangan teori behavioristik terhadap terhadap manusia adalah 1) perilaku organisme bukan merupakan suatu fenomena mental, lebih ditentukan dengan belajar, sikap, kebiasaan dan aspek perkembangan kepribadian, 2) perkembangan kepribadian bersifat deterministik, 3) perbedaan individu karena adanya perbedaan pengalaman, 4) dualisme seperti pikiran dan tubuh, tubuh dan jiwa bukan merupakan hal yang ilmiah, tidak dapat diperkirakan dan tidak dapat mengatur perilaku manusia dan 5) walaupun perkembangan kepribadian dibatasi oleh sifat genetik, tetapi secara umum lingkungan dimana individu berada mempunyai pengaruh yang sangat besar. Uraian tersebut menunjukkan bahwa manusia adalah sosok yang sangat deterministik.
Chamblers & Goldstein (dalam Gilliland, 1989) menyatakan bahwa tidak ada batasan yang jelas mengenai pribadi yang sehat atau tidak sehat. Hal ini disebabkan para tokoh aliran ini mengakui bahwa perilaku maladaptif adalah seperti perilaku adaptif, yaitu dipelajari. Sehingga, tujuan konseling dalam pendekatan ini adalah mengajak konseli untuk belajar perilaku baru, yaitu perilaku yang dikehendaki oleh lingkungan yang dominan.
Terapi perilaku sangat berbeda dengan pendekatan-pendekatan konseling yang lain. Perbedaan mencolok ditandai pada (a) pemusatan perhatian pada bentuk perilaku yang tampak dan spesifik, (b) kecermatan dan penguraian tujuan treatment, (c) perumusan prosedur treatment yang spesifik yang sesuai dengan masalah dan (d) penafsiran yang obyektif terhadap hasil terapi (Corey, 2005).




4. TEORI HUMANISTIK
Pendekatan humanistik muncul karena ketidakcocokan dengan paradigma pendekatan Behavioristik. Tokoh aliran humanistik antara lain adalah Abraham Maslow, Rogers, Viktor Frankl dan masih banyak lagi yang lainnya. Para ahli ini secara mendasar mengemukakan teori-teorinya berdasar pada pendekatan humanistik, hanya saja, dalam pelaksanaan strategi konseling ada perbedaan-perbedaan.
Pendekatan humanistik yang dikembangkan oleh Abraham Maslow mendasarkan pemikirannya pada teori tentang kebutuhan manusia. Dimana kebutuhan manusia terdiri dari a) kebutuhan biologis dan phisik, b) kebutuhan rasa aman, c) kebutuhan untuk memiliki dan mencintai, d) kebutuhan harga diri dan e) kebutuhan aktualisasi diri.
Hirarki kebutuhan yang diuraikan oleh Maslow menunjukkan bahwa bahwa manusia akan terdorong untuk mencukupi kebutuhannya dan berusaha untuk menyelesaikan kebutuhan-kebutuhannya (accomplished). Perilaku manusia akan termotivasi untuk mencukupi kebutuhannya sampai dengan tingkat kebutuhan yang paling tinggi yaitu aktualisasi diri.

Perkembangan teori humanistik semakin pesat setelah Rogers mengembangkan teori person centered Therapy, dimana palayanan konseling dipusatkan kepada individu. Pandangan teori Rogerian terhadap manusia adalah 1) organisme, merupakan keseluruhan individu (the total individual, 2) Medan phenomenal, merupakan keseluruhan pengalaman individu (the totally of experience), dan 3) Self, merupakan bagian dari medan phenomenal yang terdiferensiasikan dan terdiri dari pola-pola pengamatan dan penillaian sadar dari “I” atau “Me”.
Rogers (dalam Soedarmadji & Sutijono, 2005) berpendapat bahwa pribadi yang sehat bukan merupakan keadaan dari ada, melainkan suatu proses, “suatu arah buka suatu tujuan”. Hal ini mempunyai makna bahwa pribadi yang sehat bukan merupakan sesuatu yang ada sejak manusia dilahirkan, tetapi merupakan suatu proses pembentukan yang tidak pernah selesai. Ini menunjukkan bahwa manusia tidak statis (mandeg) tetapi lebih pada usaha untuk terus menjadi sesuatu (becoming). Dengan demikian, Rogers menunjukkan bahwa individu yang sehat adalah mereka yang 1) Terbuka dengan pengalaman baru (opennes to experience), 2) Percaya pada diri sendiri (trust in themselves), 3) mempergunakan sumber-sumber dalam diri untuk melakukan evaluasi (internal source of evaluation), dan 4) Keinginan untuk terus tumbuh (willingness to continue growing).
Pribadi/individu yang tidak sehat menurut Rogers adalah mereka yang mengalami ketaksejajaran (incongruence) antara konsep diri (self-concept) dengan kenyataan yang ada. jika persepsi seseorang terhadap pengalaman itu terganggu atau ditolak, maka keadaan maladjusment atau vulnerability akan muncul. Keadaan incongruence ini dapat menimbulkan berbagai “penyakit” psikologis atau “neurotic behavior” seperti kecemasan, ketakutan, disorganisasi dan selalu menentukan nilai absolut. Dengan demikian, tujuan konseling yang akan dicapai oleh pendekatan ini adalah melakukan revisi terhadap cara pandang konseli.
Pendekatan Rogerian bisa dikatakan tidak memiliki strategi khusus dalam menangani masalah konseli. Hal ini dikarenakan dalam praktik konseling, kualitas hubungan antara konselor dan konseli menjadi proritas utama untuk mengentas permasalahan konseli. Hanya saja, untuk mencapai hal itu, maka dikutuhkan kualitas konselor seperti
1) Genuineness,
2) Unconditional Positive Regard, dan
3) Empathic Understanding.


5. TEORI GESTALT

Teori Gestalt diperkenalkan oleh Frederick Perls. Gestalt dalam bahasa Jeman mempunyai arti bentuk, wujud atau organisasi. Kata itu mengandung pengertian kebulatan atau keparipurnaan (Schultz, 1991). Lebih lanjut, Simkin (dalam Gilliland, 1989) menyatakan bahwa kata Gestalt mempunyai makna keseluruhan (whole) atau konfigurasi (configuration). Dengan demikian Perls lebih mengutamakan adanya integrasi bagian-bagian terkecil kepada suatu hal yang menyeluruh. Integrasi ini merupakan hal penting dan menjadi fungsi dasar bagi manusia.

Proses perkembangan teori Gestalt tidak bisa dilepaskan dari sosok Laura (Lore) Posner (1905-1990). Dia adalah isteri Frederick perls yang secara signifikan turut mengembangkan teori Gestalt. Laura dilahirkan di Pforzheim Jerman. Awal mulanya dia adalah seorang pianis sampai dengan umur 18 tahun. Pada awalnya, Laura juga seorang pengikut aliran Psikoanalisa, yang kemudian pindah untuk mendalami teori-teori Gestalt. Pada tahun 1926, Laura dan Perls secara aktif melakukan kolaborasi untuk mengembangkan teori Gestalt, hingga pada tahun 1930 akhirnya mereka menikah. Pada tahun 1952, mereka mendirikan New York Institute for Gestalt Therapy.

Teori Gestalt memandang manusia dengan asumsi-asumsi sebagai berikut, 1) manusia merupakan suatu komposisi yang menyeluruh (whole) yang diciptakan dari adanya interrelasi bagian-bagian, tidak ada satu bagian tubuh (tubuh, emosi, pemikiran, perhatian, sensasi dan persepsi) yang dapat dipahami tanpa melihat manusia itu secara keseluruhan, 2) seseorang juga merupakan bagian dari lingkungannya dan tidak dapat dipahami dengan memisahkannya, 3) seseorang memilih bagaimana merespon stimuli eksternal, dia merupakan aktor dalam dunianya dan bukan reaktor, 4) seseorang mempunyai potensi untuk secara penuh menyadari keseluruhan sensasi, pemikiran, emosi, dan persepsinya, 5) seseorang mampu untuk membuat pilihan karena kesadarannya, 6) seseorang mempunyai kemampuan untuk menentukan kehidupan secara efektif, 7) seseorang tidak mengalami masa lalu dan masa yang akan datang; mereka hanya akan dapat mengalami dirinya pada saat ini, dan 8) seseorang itu pada dasarnya baik dan bukan buruk.
Menurut teori Gestalt, manusia sehat memiliki ciri-ciri antara lain 1) percaya pada kemampuan sendiri, 2) bertanggungjawab, 3) memiliki kematangan, dan 4) memiliki keseimbangan diri. Sebagai orang yang pernah mempelajari teori psikoanalisa (walaupun ditolaknya) Frankl menunjukkan bahwa orang-orang tidak sehat memiliki ciri-ciri sebagaimana yang disebutkan oleh teori psikoanalisa sebagai deffense mechanism.
Perilaku menyimpang pada manusia seringkali tidak disadari oleh seseorang, atau bahkan dia menolak bahwa mereka memiliki masalah. Dengan demikian, tujuan konseling dalam keonseling Gestalt adalah reowning. Pengakuan (menyadari) bahwa satu-satunya kenyataan yang kita miliki ialah kenyataan saat ini, orang serupa itu tidak melihat ke belakang atau ke depan untuk menemukan arti atau maksud dalam kehidupan (Schultz, 1991).
Pendekatan Gestalt mengarahkan konseli untuk secara langsung mengalami masalahnya daripada hanya sekedar berbicara situasi yang seringkali bersifat abstrak. Dengan begitu, konselor Gestalt akan berusaha untuk memahami secara langsung bagaimana konseli berpikir, bagaimana konseli merasakan sesuatu dan bagaimana konseli melakukan sesuatu, sehingga konselor akan “hadir secara penuh” (fully present) dalam proses konseling sehingga yang pada akhirnya memunculkan kontak yang murni (genuine contacs) antara konselor dengan konseli.

Pengikut Gestalt selalu mempergunakan kata tanya “Apa/What” dan “Bagaimana/How”. Mereka menjauhi pertanyaan “Mengapa/Why”. Hal ini dikarenakan pertanyaan mengapa mempunyai kecenderungan untuk mengetahui alasan klien. Jika hal ini dilakukan, maka secara tidak langsung konselor telah mengajak klien untuk kembali ke masa lalunya. Selain itu, pertanyaan mengapa akan mengarahkan klien untuk berbuat rasionalisasi dan mengadakan penipuan diri (self-deception) serta lari dari kenyataan yang terjadi saat ini. Lari dari kenyataan yang terjadi saat ini akanmembuat klien mandeg atau stagnasi. Beberapa teknik yang dipegunakan antara lain,
1) teknik kursi kosong,
2) pekerjaan rumah,
3) perilaku yang diarahkan,
4) humor, dan
5) konseling kelompok


6. TEORI KONSELING “CLIENT-CENTERED”(BERPUSAT PADA KLIEN)

Konseling berpusat pada klien sering pula disebut sebagai teori diri (self-teory),konseling non-direktif,dan konseling rogerian,Carl R.Roger di pandang sebagai pelopor dan tokoh konseling tersebut.
A. Konsep Utama
Pendekatan konseling atau yang berpusat pada klien menekankan pada kecakapan klien untuk isu yang penting bagi dirinya sendiri dan pemecahan masalahnnya sendiri.Yang paling penting hubungan kualitas konseling adalah pembentukan suasana hangat,permisif,dan penerimaan yang dapat membuat klien untuk menjelajai struktur dirinya dalam hubungan dengan pengalaman uniknya.
B. Proses Konseling
Konseling yang berpusat pada klien memusatkan pada pengalaman individu.dalam proses disorganisasi dan reorganisasi diri,konseling berupaya untuk meminimalkan rasa diri terancam dan memaksimalakan serta menompang eksplorasi diri.Konselor yang efektif yang berpusat pada klien adalah seorang yang dapat mengembangkan sikaop pada organisasi dirinya. Dan dapat menerapkan secara konsisten dengan teknik konseling.
Pada garis besarnya langkah-langkah proses terapi dalam konseling ialah sebagai berikut:
a. Individu atas kemauannya sendiri datang kepada konselor atau terapis untuk meminyta bantuan.Apalagi individu itu datangya atas petunjuk orang lain.
b. Situasi terapuetik ditetapkan sejak situasi permulaan telah didasarkan ,bahwa yag bertanggung jawab pada hal ini adalah klien.
c. Konselor mendorong memberikan klien agar mampu mengemukakan perasaannya secara bebas berkenaan dengan masalahnya untuk “menolong”dirinya sendiri,konselor harus memperhatikan sifat ramah,bersahabat dan menerima klien sebgaimana adannya.

7. KONSELING PSIKOLOGI INDIVIDUAL

Psikologi individual dikembangkan oleh Alfred Alder,sebagai suatu sistem yang komperatif dalam memahami individu dalam kaitannya dengan lingkungan sosial. Alder memisahkan diri dari psikoanalisa Freud karena ketidaksetujuannya keada pandangan Freud.
A. Konsep Utama
Konstruk utama psikologi individual adalah bahwa perilaku manusia di pandang sebagai suatu kompensasi terhadap perasaan inferioritas (harga diri kurang).Alder menyebutukan bahwa dalam kehidupan masyarakat,maskkulinitas merupakan simbol superioritas,dan feminitas simbol inferioritas. Hal yang penting lainnya adalah konsep minat kemasyarakatan (comunity interest) sebagai bagian dari kualitas manusiawi. Minat sosial ini mendorong individu untuk mencapai superioritas.Kecemasan timbul disebabkan oleh konsenterasi dalam mencapai superioritas pribadi tanpa memperhitungkan kebutuhan orang lain.
B. Proses Konseling
Tujun konseling Alder adalah mengurangi intensitas perasaan rendah diri (inferior) memperbaiki kebiasaan-kebiasaan yang salah dalam persepsi,menetapkan tujuan hidup hidup,mengembangkan kasih sayang terhadap orang lain dan meningkatkan kegiatan. Pendekatan Alder dalam proses konseling berdasarkan bahwa klien telah membuat kesalahan gaya hidup dan konsepsi merekndakanya tentang kenyataan.Konselor hendakanya membantu mereka untuk mencapai pandangan terhadap kenyataan yang lebih baik dan benar.
Pendekatam konseling biasannya melibatkan pola hidup sekarang yang nampak dan menelusuri kebelakang hingga konselor dan klien memperoleh kejelasan mengenai tujuan superioritasnnya.Menurut Ansbacher & Anbacher (Shertzer & Stone,1980,204) ada tiga komponen pokok dalam memperoleh.Ketiga komponen tersebut:
a) Memeroleh pemahaman gaya hidup klien yang spesifik,gejalaa dan masalahnya,melalui empati,intuisi,dan penafsiran konselor.Dalam unsur ini konselor membentuk hipotesis mengenai gaya hidup dan sitaasi klien.
b) Proses menjelaskan kepada klien,dalam komponen ini hipotesis gaya hidup yang dikembangkan dalam komponen pertama,harus ditafsirkan dan di komunikasikan kepada klien sehingga dapat diterima.psikologi individual menekannkan pentingnya membantu klien untuk memperoleh tilikan terhadap kondisinya.Penjelasan konselor hendaknya sederhana dan terarah sehingga jelas bagi klien dan cocok dengan pengalamananya sendiri.
c) Proses memperkuat minat sosial,klien dengan menghadapakan mereka,secara seimbang, dan menunjukan minat dn kepedulian.

8. KONSELING ANALISIS TRANSAKSIONAL

Eric Berne dianggap sebagai pioner yang menerapkan teori analisa transaksional dalam psikoterapi.Dalam terapi ini hubungan klien dengan konselor pandang sebagai suatu transaksional.
A. Konsep Utama
Berne membagi psikoterapi konvesional menjadi dua kelompok ertama kelompok yang melibatkan sugesti,dukungan kembali dan funsi paranetal lainnya,dan kedua adalah kelompok yang melbatka pendekatan “rasional” .Teori analisi transaksional berdasarkan pada munculan manifestasi dan pola-pola perilaku dengan klien. Hal ini di disebut sebagai “transactional stimuls”.Orang lain kemudian akan menyatakan dalam kaitan dengan stimulus.Kepribadian terdiri atas tiga “ego state” yang dapat di pindah dari keadaan yang satu keadaan yang lain.


B. Proses Konseling
Tugas utama konselor yang menggunakan analisa transaksional adalah mengejar bahasa dan ide-ide sistem untuk mendiagnosa transaksi dan membantu individu untuk hidup dalam ego state dewasa ego lainya berfungsi secara tetap. Tujuan konseling adalah membantu klien dalam memperogram pribadinya agar dapat membuat ego state berfungsi pada saat tepat. Tetapi analisis transaksional membuat orang dapat menganlisis transaksi dirinya sendiri.
Teknik-teknik daftar cek,analisis skript atau kuesioner digunakan untuk mengenal keputusan yang telah dibuat sebelumnya.Banyak teknik analisis transaksional dan gestalt dapat di gabungkan secara baik.Klien berpasrtisipasi aktif dalam diagnosis dan diajarkan untuk membuat tafsiran sendiri dan pertimbangan nilai sendiri. Teknik konfrontasi juga banyak digunakan dalam analisis transaksional dan pengauan pertanyaan dan merupakan pendekatan dasar. Untuk brelangsungnya konseling kontrak antara konselor dan klien sangat di perlukan.
C. Kontribusi
Berberapa keuntungan konseling analisis transaksional adalah antara lain:
a) Terminologi yang sederhana dapat di pelajari dengan mudah diterapakan dengan segera pada perilaku yang kompleks.
b) Klien diharapkan dan mendorong untuk mencoba dalam hubungan diluar konseling untuk mengubah perilaku yang salah.
c) Perilaku klien “disini dan sekarang”,merupakan cara untuk membawa perbaikan klien.
d) Penekanan pada pengalaman masa kini dan lingkungan sosial.

DAFTAR PUSTAKA

Surya Mohamad,Teori-teori Konseling,C.V.Pustaka Bani Quraisy.Bandung
2003

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Cari Blog Ini

Memuat...