Selamat Datang di Blog Bimbingan Konseling Islam ((Semoga Anda Terinspirasi))
Tampilkan postingan dengan label Kampus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kampus. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 Januari 2011

Mengenal Siswa

Tugas Kelompok
PSIKOLOGI PENDIDIKAN
(Mengenal Siswa)


Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Kelompok Dalam Mata kuliah Psikologi Pendidikan kepada Dosen Pembimbing Kami:
Dr.Syafrimen.M.Ed
Khoironi. Psi.

DISUSUN OLEH
Nofi Syahriyanti : 09.11.08.0045
Riyan Hidayat : 09.11.08.0050
Rosmalia : 09.11.08.00
Jurusan : Bimbingan Konseling Islam
(BKI)







FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI ( IAIN )
RADEN INTAN LAMPUNG
2010

KATA PENGANTAR


Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Rasa syukur kami ucapkan kepada ALLAH Yang Maha Esa,atas izin-Nya yang telah di berikan kepada kami hingga terselesaikanya Makalah Psikologi Pendidkan telah berusaha semaksimal mungkin,menyusun, Makalah Psikologi Pendidikan
Atas usaha kami dapat menyelesaikan tugas yang di perunjukan kepada kami kami khususnya kami .kami pun bersyukur karena dapat menyelesaikan tugas yang telah di berikian dosen kami.
Selanjutnya kami selaku penyusun dalam pembuatan makalah jika ada yang kurang berkenaan di hati para pembaca,kami mohon ma’af sebesar-besarnya,karena manusia tak luput dari dosa maupun khilaf,jika dalam pembuatan makalah ini masih bada kekurangan kami mohon kritik dan saran ,supaya kami lebih baik lagi dalam membuat makalah.semoga jirih payah kami dan pengorbanan kami mendapat balasan yang setimpal dari ALLAH S.W.T.Amin.

Wassalamualaikum Wr.Wb.





Bandar Lampung, 20 Oktober 2010



Penulis








PENDAHULUAN
Salah satu tujuan dari pendidikan ialah menolong anak mengembangkan potensinya semaksimal mungkin,dan oleh kaena itu pendidikan sangat menguntungkan baik bagi anak maupun bagi masyarakat.Anak didik memandang sekolah sebagai tempat mencari sumber”bekal” yang akan membuka dunia bagi mereka.Orang tua memandang sekolah sebagai temapat mana anaknya akan mengembagkan kemampuannya.
Bimbingan merupakan salah sebagian dari pendidikan,yang menolong anak tidak mengenal diri serta kemampuannya,tetapi mengenal dunia sekitarnya.Tujuan bimbingan adalah untuk menolong anak didik dalam perkembagan seluruh kepribadian dan kemampuannya,hal ini dapat tercapai bila potensi,pribadi dan segala hal yang berpengaruh diketahui sebelumnya. 
MENGENAL SISWA YANG MENGALAMI GANGGUAN BELAJAR (PSIKHIS,FISIK)
Setiap individu memang tidak ada yang sama,perbedaan individual ini pula yang menyebabkan perbedaan tingkah laku belajar di kalangan anak didik.Dalam keadaan dimana anak didik atau siswa tidak dapat belajar sebagaimana mestinya,peristiwa yang disebut dengan gangguan dalam belajar.
Gangguan dalam belajar ini tidak selalu disebabkan karena faktor intelegensi yang rendah (kelainan mental),akan tetapi dapat juga disebabkan oleh faktor-faktor non intelegensi (Fisik) dengan demikian IQ yang tinggi belum tentu menjamin keberhasilan belajar.
Belaja sebagai proses atau aktivitas disyaratkan oleh banyak sekali hal-hal atau faktor-faktor.Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar itu ada banyak sekali macamnya:
1. Faktor-faktor yang beraasal dari lluar siswa dan dapat di golongkan menjadi dua yaitu:
a. Faktor-faktor non-sosial.
b. Faktor-faktor sosial.
2. Faktor-faktor yang berasal dai diri siswa dapat digolongkan menjadi dua yaitu:
a. Faktor-faktor fisiologis
b. Faktor-faktor psikologis.

a. Faktor-faktor Non-sosial
Adalah faktor yang memang berasal dari luar diri individu atau siswa,karena faktor ini termasuk keadalamnya karena faktor cuaca,waktu (pagi,siang,malam) tempat,( letaknya,pergedungan),alat-alat yang dipakai untuk belajar (seperti alat tulis menulis,buku-buku, dsb).
Semua faktor yang telah disebutkan diatas itu, dan juga faktor-faktor lain yang belum disebutkan harus kita atur sedemikian rupa,sehingga dapat membantu (menguntungkan) proses/perbuatan belajar secara maksimal.Letak sekolah atau temapt belajar misalnya harus memenuhi syarat-syarat seperti ddi tempat yang tidak terlalu dekat kepada kebisingan atau jalan ramai,lalu bangunan itu harus memenuhi syarat-syarat yang telah dala ilmu kesehatan sekolah.

b. Faktor-faktor sosial
Yang simaksud dengan faktor sosial disini ialah faktor manusia,baik manusia itu ada (hadir) maupun tidak ada (hadir) .Kehadiran orang atau orang lain dalam waktu orang sedang belajar banyak kali menganggu belajr itu,misalnya kalau satu kelas murid sedang mengerjakan soal ujian lalu terdengar banyak anak lain sedang bercakap-cakap disamping kelas,atau seorang sedang belajar di kamar,satu atau dua orang hilir mudk masuk k dan keluar masuk kamar itu, dan sebagainya.Kecuali kehadiran yang langsung seperti yang telah dikemukakan diatas itu,mungkin juga orang lain itu tidak hadir langsung atau tidak dapat disimpulakan kehadirannya, misalnya suara nyayian yang terdengar lewat radio tau televisi,juga dapat merepresentasi bagi kehadiran seseorang.Faktor-faktor sosial seperti yang telah dikemukakan diatas itu pada umumnya bersifat mengganggu,walaupun kadang kala di temukan kasus bahwa anak atau individu dapat belajar atau menyerap dalam membaca ketika mendengarkan musik atau lainnya,tetapi pada umumnya dapat di artikan mengaggu ketika mendegarkannya melebihi suara atau terlau keras.Biasanya faktor-faktor tersebut mengaggu konsenterasi,sehingga perhatia tidak dapat di tunjukan kepada hal yang dipelajari atau aktivitas belajar itu semata-mata.



Faktor-faktor penyebab kesulitan belajar.
1.Faktor Fisik
A. Karena Sakit (Sakit parah)
Sesorang atau siswa yang sakit akan mengalami kelemahan fisiknya sehingga safaf sesnsoris dan motorisnya lemah akibatnya rangsangan yang diterima melalui indranya tidak dapat diteruskan keotak,lebih-lebih sakitnya lama syarafnya akan bertambah lemah sehingga ia tidak dapt masuk sekolah atau pun menerima suatu pelajaran dengan baik.
B. Karena kurang sehat
Anak yang kurang sehat dapat mengalami kesulitan belajar sebab ia mudah capek mengantuk,pusing,daya konsenterasinya hilang,kurang semangat,pikiran terganggu. Karena hal-hal ini maka penerimaan dan respon pelajaran berkurang,saraf otak tidak mampu bekerja secara optimal memproses,mengelola menginterprestasi dan mengorganisir bahan pelajaran melalui indranya.
C. Karena cacat fisik (tubuh)
Cacat tubuh dibedakan atas:
Cacat tubuh yang ringan seperti kurang pendengaran,kurang penglihatan gangguan psikomotor.
Cacat tubuh yang tetap atau serius seperti buta,tuli,bisu,hilang tangannya dan kakinya.

1. Faktor Pshikis
A. Intelegensi
Murid atau anak yang Iqnya tingggi dapat menyelasikan segala persoalan yang dihadapi,anak yang nomal (90-110) dapat menamatkan SD tepat pada waktunya mereka yang memiliki IQ (110-140) dapat di golongkan cerdas (140-keatas) tergolong jenius.Jadi semakin tinggi IQ seseorang akan makin cerdas pula.mereka yang mempunyai IQ kurang dari 90 terggolong lemah mental anak inilah yang banyak mengalami kesulitan belajar, mereka ini digolongkan atas debil,embisil,idiot.
Golongan debil walaupun umurnya telah berusia 25 tahun kecerdasan mereka setingkat dengan anak normal umur 12 tahun.
Golongan embisil hanya mampu mencapai tingkat anak normal umur 7 tahun.
Golongan idiot kecakapanya menyamai anak normal umur tiga tahun,anak yang tergolong lemah mental ini sangat terbatas kecakapnya.
Apabila mereka itu harus menyelesaikan persoalan yang melebihi potensinya jelas dia tidak mampu dan banyak mengalami kesulitan,oleh karena itu guru atau pembimbing harus meneliti tingkan IQ anak dengan meminta bantuan seorang psikolog agar dapat melayani murid-muridnya.
B. Bakat
Adalah potensi atau kecakapan dasar yang dibawa sejak lahir,setiap individu mempunyai bakat yang berbeda-beda contohnya seseorang yang berbakat musik mungkin di bidang lain ketinggalan.seorang yang berbakat dibidang teknik tetapi di bidang olahraga lemah.jadi seseorang akan mudah mempelajari yang sesuai dengan bakatnya apabila seorang anakharus mempelajari bahan yang lain ia akan cepat bosan mudah putus asa tidak semangat,hal-hal tersebut akan tampak pada anak suka menggangu kelas suka berbuat gaduh tidak mau belajar sehingga nilainya rendah.
C. Minat tidak adanya minat seseorang anak terhadap suatu pelajaran akan timbul kesulitan belajar belajar yang tidak ada minatnya mungkin tidak sesuai dengan bakatnya,tidak sesuai dengan kebutuhan,tidak sesuai dengan kecakapan,tidak sesuai dengan tipe-tipe khusus anak banyak menimbulkan problema pada dirinya.Karena itu pelajaran pun tidak pernah terjadi proses dalam otak akibatnya timbul kesulitan. Adatidanya minat terhadap sesuatu pelajaran dapat dilihat dari cara anak mengikuti pelajaran.
MENGENAL SISWA YANG BERBAKAT (CERDAS,PINTAR)
Pada dasarnya setiap anak yang dilahirkan ke dunia akan berbeda-beda baik secara fisik, motorik, kognitif, emosional, dan social. Perbedaan ini merupakan kenyataan yang tidak dapat dihindari oleh setiap orang. Dengan adanya perbedaan maka setiap orang tampil dalam hidupnya dengan berbagai macam karakter, kelebihan, dan kekurangannya masing-masing.
Umumnya anak-anak (pelajar) sebagian besar berada dalam keadaan normal baik secara fisik maupun mental. Hanya sebagian kecil saja kondisi mereka berada di bawah atau di atas normalitas.
Berdasarkan psikologi pendidikan diketahui bahwa sebagian besar anak-anak (pelajar) berada pada kemampuan rata-rata (normal), sedangkan sebagian kecil merupakan pelajar dengan pengecualian (learner with exceptiopnalities). Pelajar dengan pengecualian adalah orang-orang yang kinerja fisik, mental atau perilaku mereka begitu berbeda dari yang biasa – lebih tinggi atau lebih rendah – sehingga pelayanan tambahan diperlukan untuk memenuhi kebutuhan orang tersebut. Istilah “Pelajar yang tidak biasa” (exceptional) adalah anak-anak yang memiliki gangguan atau ketidakmampuan dan anak-anak yang tergolong berbakat.
Menurut tingkat kecerdasannya (IQ), Binet Simon membuat penggolongan tingkat kecerdasan manusia sebagai berikut: Siswa yang memiliki tingkat kecerdasan kurang dari 70 dapat digolongkan sebagai siswa yang memiliki ketidakmampuan, tingkat kecerdasan 90 s.d 110 adalah normal sedangkan yang tingkat kecerdasannya lebih dari 130 adalah siswa-siswa yang berbakat dan bertalenta.
Siswa yang berbakat dan bertalenta adalah anak-anak yang memiliki kemampuan yang diperlihatkan atau potensial yang memberikan bukti kemampuan kinerja yang tinggi dalam intelektual, kreatif, akademis tertentu atau kepemimpinan atau dalam seni pertunjukan atau visual dan dengan alasan itu memerlukan pelayanan atau kegiatan yang tidak biasa diberikan oleh sekolah.
Terdapat beberapa karakteristik siswa yang berbakat dan bertalenta adalah:
• Memiliki kecerdasan di atas rata-rata (biasanya di atas 130)
• Memiliki bakat unggul di beberapa bidang seperti seni, music, atau matematika.
• Memiliki motivasi kuat
• Tampil unggul secara akademis
• Belajar membaca lebih awal
• Menyelesaikan pekerjaan sangat baik

Selain itu beberapa ciri lain anak berbakat adalah:
a. Dewasa lebih dini (precociaty) .
Anak berbakat adalah anak yang dewasa sebelumnya apabila diberi kesempatan untuk menggunakan bakat atau talenta mereka. Mereka mulai menguasai suatu bidang lebih awal ketimbang teman-temannya yang tidak berbakat.
b. Belajar menuruti kemauan mereka sendiri.
Anak berbakat belajar secara berbeda dengan anak lain yang tak berbakat. Mereka tidak membutuhkan banyak dukungan, atau soaffolding, dari orang dewasa. Seringkali mereka tau mau menerima instruksi yang jelas. Mereka juga kerap membuat penemuan dan memecahkan masalah sendiri dengan cara yang unik di bidang yang memang menjadi bakat mereka.
c. Semangat untuk menguasai.
Anak yang berbakat tertarik untuk memahami bidang yang menjadi bakat mereka. Mereka memperlihatkan minat besar dan obsesif dan kemampuan kuat focus. Mereka tidak perlu didorong oleh orang tuanya. Mereka punya motivasi internal yang kuat.
Pada umumnya sekolah-sekolah yang ada saat ini baru dapat memfasilitasi siswa-siswa yang kemampuan intelegensinya normal. Sedangkan siswa yang tergolong di bawah normal dilayani khusus pada sekolah luar biasa (SLB). Walapun saat ini telah digulirkan program sekolah inklusi yang memfasilitasi siswa-siswa kurang normal pada sekolah-sekolah umum, namun belum semua sekolah siap melakukannya.
Untuk melayani siswa-siswa berbakat dan bertalenta, kiranya sekolah sebagai lembaga pendidikan sudah selayaknya memberi fasilitas kepada mereka. Hal ini perlu dilakukan agar potensi yang mereka miliki dapat tersalurkan dengan baik, di samping itu kemampuan siswa berbakat dan bertalenta dapat lebih berkembang dan bermanfaat bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Siswa berbakat dan bertalenta memiliki kemampuan yang diperlihatkan atau potensial yang memberikan bukti kemampuan kinerja yang tinggi dalam bidang seperti intelektual, kreatif, akademis atau kepemimpinan atau dalam seni atau visual dan memerlukan pelayanan yang tidak biasa diiberikan oleh sekolah.
Berdasarkan hal tersebut, beberapa tindakan yang dapat dilakukan untuk menangani siswa berbakat dan bertalenta adalah:
1. Program Akselerasi (Acceleration Program)
Program akselerasi merupakan program percepatan belajar melalui pelajaran tindak lanjut sehingga waktu yang digunakan oleh siswa dalam menyelesaikan jenjang pendidikan, lebih cepat dari siswa lainnya.
2. Pemadatan Kurikulum (Curriculum Compacting)
Pemadatan kurikulum merupakan teknik yang diterapkan dalam menyelesaikan pembelajaran dimana guru dapat melompati bagian kurikulum tertentu yang tidak dibutuhkan siswa yang sangat mampu di dalm kelasnya. Bagian kurikulum yang dilompati adalah materi-materi yang dianggap dapat dikuasi siswa dengan tanpa bantuan guru.
3. Program Pengayaan (Enrichment Program)
Program pengayaan merupakan program dimana tugas atau kegiatan yang dirancang untuk memperluas atau memperdalam pengetahuan siswa yang menguasai pelajaran di kelas dengan cepat.
Bentuk-bentuk kegiatan program pengayaan diantaranya:
a. Kegiatan belajar mandiri.
b. Penyediaan mentordewasa bagi siswa berbakat.
c. Kegiatan penyelidikan umum seperti proyek dengan topik yang ditentukan sendiri oleh siswa.
d. Kegiatan pelatihan kelompok untuk meningkatkan kreatifitas dan kemampuan menyelesaikan masalah.
e. Penelitian perorangan atau kelompok kecil tentang masalah yang sesungguhnya.

DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahman, M. (1999). Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta: Penerbit Rineka Cipta.
Lerner, J. (2003). Learning Disabilities: Theories, Diagnosis, and Teaching Strategies. Boston: Houghton Mifflin Company.

Sumadi,Psikologi Pendidikan,cet 7,Jakarta: PT RajaGrafindo 1995

Utami Munandar,Pengembangan Kreativitas anak berbakat,Jakarta
PT Rieneka Cipta 1999.

Soetomo Wasty,Psikologi Pendidikan, Jakarta PT Rieneka Cipta 1990.

Http//www.Google.com //Pendidikan bagi siswa berbakat dan bertalenta
Oleh: eviana hikamudin,s.pd,mm

Minggu, 09 Januari 2011

Motivasi dalam konseling

BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
 Di dalam dunia konseling seorang konselor harus memiliki rasa memiliki motivasi yang kuat untuk dirinya sehingga akan bertujauan ketika konselor mempunyai motivasi yang tinggi akan mudah untuk membantu seorang individu atau klien untuk menghadapi masalhanya. Karena seorang konselora harus mampu untuk itu.
Ketika seorang konselor tidak mampu memotivasi dirinya, bagaimana dia akan memotivasi orang lain, dengan kata lian kewajiban yang harus dimilki seorang konselor untuk memahami motivasi, didalam konseling perlu yang namanya motivasi,sehingga bahasan kita nanti membahas tentang motivai dalam konseling.

B.     Permasalahan
Masalah yang akan kita temui dalam pokok bahasan ini ialah bagamana seorang konselor memahami konsep motivasi,teori-teori motivasi,prinsip motivasi, yang kana di bahas pada bab selanjutnya.



BAB II. PEMBAHASAN
MOTIVASI DALAM KONSELING
Berbicara dengan motivasi dalam konseling,berarti kita harus paham dulu apa yang di maksd dengan motivasi, kemudian kita kaitkan dengan proses konseling, kita bahas sedikit tentang konseling, konseling ialah proses pemberian bantuan yang dilakukan melalui melalui wawancara konseling oleh seorang ahli (konselor) kepada individu yang sedang mengalami masalah  atau di sebut (konseli) yang bermuara pada teratasinya masalah yang di hadapi klien[1]
A.    Motivasi
1.      Konsep
Pengertian motivasi adalah dari kata “Motivation.”kebutuhan”,dorongan”,dan “instink” jadi motivasi adalah dorongan-dorongan yang timbul pada diri atau dari dalam diri seorang atau individu yang menggerakkan dan mengarahkan perilaku, yang menghasilkan tujuan (motif).[2]
motivasi diguanakan untuk menunjukan suatu keadaan dalam diri seorang yang berasal dari akibat kebutuhan,dan motiv inilah yang mengaktifkan atau membangkitkan perilaku yang biasanya tertuju pada pemenuhan kebutuhan tadi.motif yang mucul untuk kebutuhan fisiologis sebut dorongan.
Ayat yang berkenaan dengan motivasi ialah Qur’an surat Ar-Rad ayat 11

3..... žcÎ) ©!$# Ÿw çŽÉitóム$tB BQöqs)Î/ 4Ó®Lym (#rçŽÉitóム$tB öNÍkŦàÿRr'Î/ 4  ....
...Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan[768] yang ada pada diri mereka sendiri. ...

 [768]  Tuhan tidak akan merobah keadaan mereka, selama mereka tidak merobah sebab-sebab kemunduran mereka.

Memahami motivasi merupakan satu hal penting bagi para konselor dalam proses konseling, karena berbagai alasan:
a)      Klien harus didorong untuk bekerjasama dalam konseling dan senantiasa berada dalam situasi itu.
b)      Klien harus senantiasa di dorong untuk berbuat dan berusaha sesuai tuntutan.
c)      Motivasi merupakan hal yang penting dalam memelihara dan mengembangkan suasana konseling.

2.      Teori Motivasi
Teori motivasi dapat di kategorikan menjadi tiga kelompok yaitu teori dengan pendekatan :
A.    Teori jenjang kebutuhan  (A.Maslow)
Teori motivasi yang dikembangkan abraham maslow banyak digunakan dalam konseling ada,menurut teori ini ada lima tingkatan kebutuhan dalam diri manusia mulai dari yang paling dasar sampai yang paling tinggi, yaitu ,Kebutuhan jasmaniah,kebutuhan memperoleh rasa aman,kebutuhan sosial,kebutuhan memperoleh harga diri dan kebutuhan aktualisasi diri.[3]
a)      Kebutuhan jasmani
Yaitu kebutuhan manusia yang erat hubungannya dengan proses kehidupan jasmaniah,kebutuhan ini sifatnya primer dan universal, artinya mutlak harus di penuhi oleh siapa saja kapan saja,dan dimana saja. Kebutuhan ini antara lain kebutuhan akan makan,minuman,udara dsb.
b)      Kebutuhan memperoleh rasa aman.
Disamping kebutuhan yang bersifat jasmaniah manusia membutuhkan rasa aman bebas darri segala ketegangan,ancaman,kehilangan, dsb. Banyak orang yang terdorong dan betah dalam situasi tertentu seperti pekerjaan,pendidikan,dalam keluarga. Karena dapat menimbulkan rasa aman dan tentram dan sebaliknya banyak pula orang yang merasa gelisah dalam melaksanakan tugasnya karena didalamnya tidak terdapat rasa aman. Hal inilah yang harus mendapat perhatian dari para konselor dalam proses konseling.
c)      Kebutuhan sosial
Sudah merupakan kodratnya bahwa manusia akan tergantung kepada manusia lain.Manusia sebagai mahluk sosial menyebabkan ketergantugan antara satu dengan lainya,karena itu berhubungan dengan manusia lain adalah merupakan suatu kebutuhan pula yang tergolong kedalam kebutuhan sosial misalnya,kebutuhan bergaul, berorganisasi,persahabatan,tolong-menolong dan saling mengenal.Kebutuhan ini banyak mendorong individu untuk melakukan berbagai tindakan,oleh karena itu para konselor di harapkan memahami akan hal ini dan memberikan situasi yang kondusif bagi terpenuhnya kebutuhan sosial sehingga mendorong klien untuk melakukan tugasnya secara efektif dan prosuktif.
d)     Kebutuhan untuk memperoleh harga diri
Setiap orang mempunyai harga diri dan setiap orang pula senantiasa akan mempertahankan harga dirinya. Harga diri ini selalu ingin di pertahankan dan di kembangkan. Kebutuhan ini akan berkembang baik jika kebutuhan-kebutuhan sebelumnya terpenuhi. Jika kebutuhan tahap ini tidak memperoleh pemuasan misalnya mendapat perlakuan yang kurang wajar,dapat menimbulkan kekecewaan dan pada gilirannya akan mempengaruhi kualitas kerjanya.
e)      Aktualisasi diri
Kebutuhan ini merupakan pendorong bagi seorang untuk menampilkan dirinya sebagai pribadi yang khas di lingkungannya. Pengakuan terhadap perwujudan diri atau aktualisasi diri ini akan mendorong untuk mampu melakukan tugas-tugasnya secara efektif dan produktif.[4]

B.     Teori Kebutuhan / motif berprestasi (McCelland)
Menurut McCelland pada dasarnya dalam diri setiap orang terdapat kebutuhan untuk melakukan perbuatan dalam memperoleh hasil sebaik-baiknya. Kebutuhan ini disebut dengan kebutuhan berprestasi (Need for achievement) dan mendorong individu untuk melakukuan perbuatan sebaik mungkin.Menuret McCelland orang yang tergolong bermotif (tujuan) tinggi ditandai dengan ciri-ciri yaitu: (1).Menyenangi situasi yang menuntut tanggung jawab pribadi untuk menyelasikan masalah.(2) Cenderung mengambil resiko yang moderat di banding dengan resiko rendah atau tinggi.(3) selalu mengharapkan balikan nyata (concrete feedback) dari semua unjuk kerja yang telah di lakukan.
Maksud dari teori ini diharapkan konselor mampu memahami teori kebutuhan berprestasi yakni konselor mengerti akan kemampuan dirinya, yang sebaik-baiknya akan menghasilkan hasil yang sebaik-baiknya. Sehingga konselor dapat membantu konseli memiliki motif berprestasi,


C.    Teori Penguatan (Skinner)
Teori ini lebih banayk menekankan pada aspek-aspek yang berkaitan dengan faktor-faktor yang dapat memperkuat atau memperlemah seorang dalam melakukan tindakan.Teori ini kuat atau lemahnya dorongan bagi seorang melakukan suatu tindakan  banyak tergantung pada faktor-faktor yang memperkuat atau memperlemah dari hasil tindakan.Suatu tindakan menghasilkan  sesuatu yang memuaskan,maka tindakan itu cenderung di perkuat.Dan sebaliknya,apabila suatu tindakan menghasilkan sesuatu yang kurangmemuaskan,maka tindakan itu cenderung akan diperlemah. Prinsip ini oleh skinner disebut dengan Operant Conditioning. Menurut Skinner setiap respon yang terjadi dari suatu stimulus,akan menjadi stimulus baru yang mendorong untuk berprilaku.Dalam konseling klien atau konseli hendaknya diberikan rangsangan yang dapat memberikan kepuasan, dan selanjutnya diberikan penguatn yang dapat dilakuakn olleh konselor,ada empat macam penguatan yang dapat dilakukan oleh konselor dalam mewujudkan prilaku:
a)      Penguatan positif, yaitu memberikan pernguatan terhadap tindakan yang dinilai positif atau baik.
b)      Penguatan negatife,yaitu dengan memberikan penguatan untuk meninggalkan tindakan-tindakan yang dipandang negatif atau kutang tepat.
c)      Penghapusan, yaitu usaha untuk menurunkan tindakan yaang tidak dikehendaki dengan memberikan penguatan manakala itu terjadi.
d)     Hukuman, yaitu dengan memberikan hukuman-hukuman terhadap mereka yang melakukan tindakan yang dipandang tidak sesuai dengan harapan terdorong untuk melakukan tindakan-tindakan yang tepat.

3.      Prinsip-prinsip motivasi
Prinsip motivasi yang dapat sebagai acuan ialah:
a)      Prinsip kompetisi
Maksudnya dengan prinsip kompetisi adalah persaingan secara sehat,baik inter maupun antar pribadi.Kompetisi intra pribadi atau self competition adalah kompetisi dalam diri pribadi masing-masing dari tindakan atau untuk kerja dalam dimensi waktu atau tempat.Kompetisi antar pribadi adalah persaingan antara individu yang satu dengan individu yang lain. Dengan persaingan yang sehat dapat menimbulkan motivasi untuk bertindak secara lebih baik.

b)     Prinsip pemacu
Dorongan untuk melakukan berbagai tindakan akan terjadi apabila pemacu tertentu.Pemacu ini dapat berupa informasi,percontohan,amanat,peringatan dan sebagainya, semua itu dapat di kembangkan melalui interaksi antara konselor dengan klien dengan menggunakan berbagai tehnik dan pendekatan dalam proses konseling.
c)      Prinsip Ganjaran (reward) dah hukuman
Ganjaran yang di terima oleh seorang dapat meningkatkan motivasi untuk melakukan tindakan yang dilakukan.kemudian hukuman yang diberikan dapat menimbulkan motivasi untuk tidak lagi melakukan tindakan yang menyebabkan hukuman itu.Hal yang harus diingat adalah ganjaran dan hukuman itu dapat ditterapakn secara tepat agar benar-benar dirasakan oleh yang bersangkutan sehingga fapat memberikan motivasi.
d)     Kejelasan dan kedekatan tujuan
Makin jelas dan makin dekatt suatu tujuan maka akan makin mendorong seorang untuk melakukan tindakan,sehubungan dengan prinsip ini,maka dalam proses konseling,konselor seyogyanya membantu klien dalam memahami tujuannya secara jelas.Melalui konseling,klien dibantu untuk membuat tujuan-tujuan yang masih umum dan jauh menjadi tujuan yang khusus dan lebih dekat.
e)      Pemahaman hasil
Dikemukakan bahwa hasil yang dicapai seorang akan merupakan balikan dari upaya yang telah dilakukanya.Perasaan sukses yang ada pada diri seseorang akan mendorongnya untuk selalu memelihara dan meningkatkan unjuk kerjanya lebih lanjut. Dalam proses konseling,klien hendaknya selalu di pupuk untuk memiliki rasa sukses dan terhindar dari berkembangnya rasa gagal.
f)       Pengembangan minat
Minat dapat di artikan sebagai rasa senang atau tidak senang dalam menghadapi suatu objek.Prinsip dasarnya adalah bahwa motivasi seorang cenderung akan meningkat apabila yang bersangkutan memiliki minat yang besar dalam melakukan tindakannya. Dalam hubungan ini motivasi dapat dilakukan dengan jalan menimbulkan atau mengembangkan minat seorang dalam melakukan tindakanya.
g)      Lingkungan yang kondusif
Lingkungan yang kondusif baik lingkungan fisik,sosial maupun psikologis dapat menumbuhakn dan mengembangkan motif untuk beerja dengan baik dan produktif.Untuk itu dapat diciptkan lingkungan fisik konseling yang sebaik mungkin,misalnya kebrsihan ruangan,tata ruanganmtata letak,fasilitas,dsb
KESIMPULAN

Jadi setelah kita memahami tentang motivasi, yaitu dari teori,pengeritan ataupun konsep, prinsip dan sebagainya yang sudah ada pada uraian diatas, dapat dikaitkan mejadi motivasi dalam konseling, maksudnya ketika proses konseling seorang konselor harus bisa memotivasi klien atau individu yang mempunyai masalah sehingga seorang klien dapat mengatasi masalahnya dengan tepat, dan dapat memberikan suatu pergerakan yang positif setelha mendapatkna motivasi hal ini dapat dijadikan bahwa motivasi  dalam konseling merupakan hal yang terpentng dalam proses konseling, jadi intinya seorang konselor haus bisa memahami motivasi.


[1]           Tohirin,Bimbingan dan konseling di sekolah. Jakarta:PT.Reineka Cipta, hal 22
[2]               C.George Boeree. General psychology.Prismasophie. jogjakarta.hal 126
[3]               Mohamad surya,Psikologi konseling. Pustaka bani quraisy,jakarta hal 102
[4]               Ibid.hal 104
Powered By Blogger

Cari Blog Ini